Ninja Reformasi [sebuah pemikiran]
Ini adalah sebuah pemikiran yang sudah lama terlintas di benak ku dan pada saat ini (dini hari yang ku rasa panas) dan baru sekarang ku tuangkan di wadah yang tepat menurutku. Semua pemikiran yang akan saya tulis dibawah ini didorong oleh rasa penasaran, kecewa dan rasa yang tak beraturan lainnya melihat kondisi negara kita Indonesia tercinta ini. Semoga menjadi pertimbangan bagi semua yang membaca. =)
Sudah sangat jelas kita lihat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kita bahwa keadaan negara kita semakin carut marut tak menentu arah tujuannya. Dari predikat negara berkembang menjadi negara miskin, ini masih dalam konteks pendapat saya pribadi (boleh kan..?!) Dan semakin parah lagi ketika sebuah kata ‘reformasi’ yang di usung oleh beberapa pihak yang merasa menjadi pioneer dalam melakukan perubahan bagi negara ini bertindak juga masih dalam keadaan diluar kendali atau bisa saya pinjam istilah dibawah pengaruh alkohol. Maksudnya pergerakan yang tidak terkendali dan seakan-akan tidak mempunyai langkah / tahapan yang sama sekali tidak punya skala prioritas. Apa ini ada hubungannya dengan masa penjajahan kita yang cukup lama (3 1/2 abad) sehingga sudah terbentuk secara genetik pada generasi yang lahir. Telah terpola untuk jadi pekerja saja, hanya sedikit yang dapat dikatakan pemikir. *No hurt feeling*
Beberapa hal yang menurut saya tidak mempunyai tahapan :
- perkembangan pendidikan politik kita, dari sistem pemilihan top management yang cukup kacau , hanya mementingkan kepentingan golongan tertentu dan telah kehilangan sisi pendidikan politiknya bagi bangsa kita yang sudah seharusnya telah berkembang pesat bidang politiknya dilihat dari umur kemerdekaan negara ini dan kondisi warga negara Indonesia yang sangat butuh pembelajaran akan politik. Peniadaan sisi pendidikan politik mungkin disebabkan oleh tokoh-tokoh politik yang makan gengsi , ingin dibilang lebih hebat dalam berpolitik. Padahal mereka telah lupa atau pura-pura lupa apa sebenarnya standar kata ‘hebat‘ dalam konteks berpolitik. Kemungkinan yang kedua mereka terlalu fokus pada penekanan pada kata ‘hebat’ nya yang menyebabkan tujuan reformasi untuk menyelamatkan bangsa ini terabaikan.
- dunia pendidikan yang semakin parah. Sepertinya setiap pergantian kepala dinas atau departemen selalu mengadakan pembaharuan, yang katanya terencana tapi nyatanya….. (bisa lihat sendiri) lagi-lagi kepentingan sendiri. Mereka selalu melakukan eksperimen dalam dunia pendidikan yang tidak terlebih dahulu dipikirkan dampaknya bagi generasi yang menerima sistem pendidikan itu. Ini sudah melalui riset atau survey atau mengacu kepada negara berkembang yang telah sukses melakukan perubahan dalam dunia pendidikan. Tapi mereka tidak mempertimbangkan latar belakang negara yang dicontoh dengan latar belakang bangsa kita.
- dan banyak lagi bidang-bidang yang lainnya yang tidak cukup kita bahas dalam tulisan ini.
Yang paling menjadi penekanan saya dalam tulisan ini adalah masalah korupsi di negara ini. Semakin gencarnya istilah reformasi semakin tertata rapi dan terencananya sistem pelaksanaan korupsi yang ada. Pembentukan berbagai organisasi pemerintahan maupun independen dalam rangka pengawasan tindakan korupsi. Tetapi itu juga tidak secara serta merta menjadi solusi yang maksimal hasilnya. Lihat saja, organisasi yang katanya mengawasi segala tindakan pidana korupsi, pemimpinnya tersandung masalah yang belum jelas klarifikasinya (sampai tulisan ini dibuat). Lalu timbullah pernyataan ‘Nobody is Perfect’ , sebuah kalimat yang cukup menjadi penyelamat atau bisa dibilang jadi kambing hitamnya.
Dari sini lah terlintas pemikiran tentang ninja-ninja reformasi. Suatu kumpulan orang-orang yang independen dan mempunyai rasa peduli terhadap bangsa yang lagi terpuruk ini untuk melakukan aksi yang mungkin dapat menjadi solusi dan mempunyai keahlian khusus dalam melakukan aksinya, bisa berbentuk keahlian intelejen dan militer serta teknologi yang lainnya. Tindakan yang mereka lakukan adalah :
mengumpulkan semua bukti otentik yang berkenaan dengan segala tindak pidana korupsi yang dilakukan oknum tertentu, baik berupa foto, berkas-berkas dan mungkin bentuk audio visual. Setelah semuanya ada, baru mereka kumpulkan dalam satu tempat atau wadah.
mengeksekusi oknum yang melakukan tindak pidana korupsi tersebut dengan cara menghukum gantung dan jasadnya digantung saja di alun-alun atau tempat umun kemudian meletakkan semua bukti atas tindak kejahatan yang telah dilakukannya di bawah jasadnya.
Semua ini diharapkan dapat menimbulkan efek jera bagi setiap orang yang punya niat / rencana untuk melakukan tindak pidana terutama tindak pidana korupsi. Mudah-mudahan ini bisa saja menjadi salah satu solusi dalam memperbaiki keadaan negara kita dari segala tindakan yang merugikan bangsa dan negara kita, terutama dalam masalah pemberantasan korupsi.
Beberapa kendala yang mungkin ada kalau seandainya Ninja Reformasi ini terbentuk :
Sangat sulit untuk mengumpulkan orang-orang yang memiliki keahlian yang khusus untuk melakukan aksi yang cukup ekstrim ini.
Dana yang akan digunakan untuk melakukan aksi tersebut. perlu kita ketahui bahwa kondisi ekonomi kita yang sudah CHAOS (istilah yang lebih tinggi kadarnya dari mesh, kekacauan yang sudah tidak bisa terkendali lagi). Untuk makan saja sudah susah. hehehe….
Sekali lagi ditekankan, ini hanya sebuah pemikiran.
ditunggu…. pembahasan tajam setajam gergaji mengenai HSPA ala Indonesia….
Mafia Adsense - November 28, 2009 at 3:50 pm |